Putus cinta itu kayak panjat tebing tinggi-tinggi tapi kemudian jatuh.
Sebenarnya inihanya konsep keadaan dari putus. Gue denger akhirakhir ini temen-temen gua banyak yang putus ama pacarnya. pas ngedengerin kata putus,ada sedikit eh bukan sedikit,tapi banyak sakit yang gua rasaain walaupun bukan gua yang putus.
Setiap putus,hampir setiap orang selalu menyesal dengan keadaan itu. Pada saat putus juga,gak jarang kenangan-kenangan yang dilewati waktu pacaran dulu selalu terbayang,sebulan,dua bulan,tiga bulan dan seterusnya. Setiap harinya saat awal-awal putus,kita kadang merasa selalu ada yang kurang pada saat itu. Misalnya pas lagi duduk sendirian siang-siang depan tv,biasanya ada sms masuk yang ngingetin supaya jangan lupa makan. Setelah putus,gak ada lagi yang ngingetin makan. Jadilah kelaparan,nunggu ada yang nyuruh makan. Sampai minta temen sebelah kamar untuk ingetin makan,trus dia juga pura-pura ingetin,baru kamunya mau makan. Oke,ini bodoh. Biasanya ketika lagi nongkrong,ada yang ingetin pulang,tapi tiba-tiba gak ada. Aneh,janggal.
Pada dasarnya,semua yang menyangkut tentang putus itu menyakitkan. Seperti lagi menjahit,ketika lagi seru-serunya ngejahit kita akan lupa kalau betepa besarnya resiko kita ditusuk jarum. Dan setelah ditusuk jarum kita baru sadar kalau ngejahit itu bisa sakit. Begitu halnya dengan putus,waktu lagi pacaran kita gak pernah sadar bahwa ketika putus nanti,kita bakalan ngerasaan sakit,bahkan lebih sakit dari pada ditusuk jarum.
Tetapi,pada kenyataan tetep aja banyak orang yang mengambil resiko itu,mengambil resiko untuk berpacaran. Mengambil resiko untuk berpacaran,berarti juga untuk mengambil resiko untuk putus menerima kesakitan yang lebih. Mereka banyak yang tidak peduli,karena bagi mereka itu adalah jalan yang diambil. Gak sedikit juga orang yang telah putus,menikmati rasa sakit itu. Mereka justru bahagia untuk tetap setia pada jalan yang menyakitkan,tapi bahagia dari mereka. Mungkin,bagi sebagian orang,putus itu bukan tentang rasa sakit,tapi ada kebahagian tentang setia yang mungkin gak dingerti orang lain.
"pada dasarnya" itu bukan segalanya, ada saat dimana kata putus itu seperti kebahagian fatal saat kata itu keluar dari mulut pemilik cinta diantara sudut segitiga.
BalasHapushahaha... Kebahagian fatal yang seperti apa? Bukannya ketika ada putus yang terlempar bisa jadi bersamaan dengan adanya kesakitan? bukan kebahagian.
BalasHapus