Jumat, 21 Desember 2012

Mencintai Dalam Diam

Sepanjang jalan,langit telah begitu gelap. Udara telah terlalu dingin untuk di ajak kompromi soal hati. Tak ada yang lewat lagi selain angin yang sejak tadi membawa dingin. Didepan toko buku,ada sebuah kursi putih panjang. Ara duduk disitu sendirian semenjak tadi,dia tak kenakan jaket ataupun pakaian tebal lainnya,padahal sejak tadi dingin telah mengintai tubuhnya untuk jadi santapan sedap. Disana,entah dia menunggu sesuatu ataupun merenungi sesuatu,yang jelas dia telah disitu dari tadi sore. Diam,hanya diam.

"Hey,sedang apa kau disitu??" teriak seorang laki-laki sambil berlari 
Ara masih terdiam,tak menjawab. Nampaknya dia begitu kedinginan
Laki-laki itu terus berlari mendekat,dia memakai pakain tebal tertutup dan celana jeans berwarna hitam,dia berkacamata dan memakai sarung tangan dari rajutan. Mulutnya terus mengeluarkan uap,nafasnya naik turun tak beraturan. Nampaknya dia begit khawatir dengan Ara.
"Kenapa kau?? Bisanya kau ada disini,banyak orang disana mengkhawatirkanmu" tukas laki-laki itu.

"Tinggalkan aku,aku lagi ingin sendiri disini" jawab Ara lemas. Sepertinya Ara sedang tak enak,mungkin karena tak tahan kedinginan.

"Apa mungkin aku meniggalkanmu disini?? laki-laki macam apa aku jika sampai berbuat seperti itu" sambung laki-laki itu tegas.

"Pulanglah,aku tak mau melihatmu! Aku ingin sendiri!!" suaranya mengeras,namun wajahnya semakin pucat kedinginan.

"Tak usah bodoh! apa kau tak rasakan betapa dinginnya malam ini?? Mungkin kau tak mau melihatku,tapi aku yang mau melihatmu. Aku tak tega,melihatmu kedinginan diluar dan menjadi bodoh seperti ini!!" balas laki-laki berjaket tebal itu.

"Pulanglah,dengarkan aku kali ini saja,setelah ini aku janji akan pergi dari hadapanmu"
tatapan mata laki-laki itu seperti memohon pada Ara,tapi rasanya seperti ada sesuatu yang beda. Apa peduli seorang laki-laki dengan wanita yang mengusirnya seperti itu.
Ara mulai berpikir sejenak,namun ia merasakan sesuatu yang gila. Kepalanya terasa beku dan seketika matanya gelap.. kemudian....

-------------------------------------

Ara mendapati dirinya sedang berada diatas tempat tidurnya sendiri,dengan balutan jaket laki-laki yang menjemputnya tadi malam. Entah apa yang membawanya bisa sampai kerumah. Dia berusah bangun,tapi kepalanya masih sakit dan dia mengerang. Tak berapa lama,Ibunya masuk membawakan sepiring sarapan dan teh hangat.
"Semalam,Radit menggantarmu pulang, katanya kau pingsan ketika dia menemukanmu dibangku depan toko buku" Ibunya memulai pembicaraan.

"Dia berkata apa pada ibu???" sambung Ara dengan lemas.

"Tidak,dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya masuk dan menggendongmu kekamar. Kemudian dia berpamitan dengan Ibu dan pergi. Ibu khawatir dengan keadaanmu semalam.
Ara kemudian hanya terdiam,dia berpikir kenapa Radit begitu peduli padanya,sejak perkenalan pertama mereka dulu,Ara tak begitu suka dengan Radit. Radit begitu cuek,kumal,dan penampilannya tak terawat. Tapi entah kenapa,Radit selalu berusaha peduli dengan Ara dan Radit tau semuanya tentang dan kebiasaan Ara. Ah Radit,dia membuat Ara begitu bingung sekarang. Tak tau kenapa dan bagaimana bisa khawatir. Ara memikirkan kemana Radit setelah dia pergi mengantarkannya pulang dan bagaimana Radit bisa mengetahui Ara berdiam di kursi panjang itu tadi malam??? Ahhrrgkk!

bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar