Radit masih berkhayal ketika seorang wanita datang. Rambutnya panjang tergerai,seperti tirai mahal dirumah orang-orang kaya,matanya sendu. Parasnya cantik,dia mengenakan celana panjang dengan jaket tebal,shal yang melilit leher jenjangnya dan sebuah topi kupluk. Tanpa suara,dia kemudian duduk disamping Radit,laki-laki gondrong,bermata hitam pekat itu..
Wanita itu Ara,dan dia masih diam saja. Radit heran,dia ingin lari kemudian menghilang,tapi ia tak menduga ketika dia masih bergelut dengan khayalnya,wanita itu datang. Wanita yang katanya tak ingin melihatnya lagi waktu itu. Wanita yang kehilangan kesadaran ditengah temaram dan dingin malam itu. Wanita yang digendong radit pulang dengan nafas yang menggebu. Tapi Radit tak bisa menipu perasaan sendiri,kalau dia sedang rindu.
"Kenapa kemari??? katanya kau tak mau melihatku lagi" Radit memulai dengan nada suara yang datar. Namun diam-diam,dia kegirangan.Radit bisu,kemudian menggaruk kepalanya,rambut gondrongnya. Sepertinya dia salah tingkah,hanya saja sedang menjaga gengsinya dihadapan wanita itu.
"Memangnya kenapa?? Tak boleh? Aku mau minta maaf" jawab wanita itu dengan ketus.
"Boleh,tapi minta maaf adas dasar apa? bukannya kau membenciku?" Radit,kembali datar.
"Membencimu bukan berarti aku tak boleh kesini,ketempat ini bukan??"
"Kemana kau selama ini???" kata wanita itu sambil terus menggesek kedua telapak tangannya untuk menghangatkan tubuhnya.Harus diakui memang,Ara hanya bingung tak tau melakukan apa untuk balas budi pada Radit,sambil terus menggesek-gesekkan kedua tangannya,Ara menyembunyikan rasa bingungnya. Mengendarai perasaany sendiri begitu susah. Tapi untuk kali ini,ia merasa kalo radit memang bukan siapa-siapa,jadi kenapa harus terbebani dengan perasaan bersalah atas malam itu. Sekali lagi,Ara menggesekkan tangannya lagi,nampaknya dia begitu gelisah. Dan harus di akui,kalo Radit bukan siap-siapa. Iya,bukan siapa-siapa. Harus diakui,dia juga tak punya prasaan apa-apa untuk radit,selain perasaan bersalah,tapi...
"Pergi,kemanapun aku mau,tak ada yang peduli bukan?" kata Radit
"Siapa bilang tak ada yang peduli?? Buktinya aku peduli,makanya aku mencarimu kesini!' sahut Ara,pura-pura tenang,tapi tegas.
"Peduli? Apa pura-pura peduli??? karena cuma merasa bersalah telah kasar padaku??
--------------------------------------------------
Ara kemudian perdi dan berlalu begitu saja,dari belakang Radit masih pura-pura tak menatapnya,berpura-pura tak peduli. Tapi ia tak mampu,terlalu bodoh untuk membodohi perasaan sendiri. "Arggh,kenapa selalu begini? dan kenapa harus wanita itu?" geram Radit dalam hati.
Tak bisa dipungkiri,Radit masih mencintai Ara,seperti Ara yang masih tak mencintai Radit,perasaan itu selalu sama,seperti saat pertama mereka bertemu. Lakon Radit,sama seperti wayang bisu. Cuma bahan pajangan tempat menggantung perasaan.
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar