Senin, 24 Desember 2012

Mencintai Dalam Diam (II)

Sejak saat itu,Radit tak pernah lagi terlihat dihadapan Ara. Ia bersembunyi,lebih tepatnya bersembunyi dari pandangan Ara saja. Dia tahu,dan masih merasa Ara begitu membencinya. Tak lagi memikirkan yang lain. Radit begitu mencintai Ara,tapi tak pernah mengunggkapkannya. Sejak pertama kali bertemu dengan Ara didepan toko buku bertuliskan 'Book Zone's & Coffe Corner',Radit telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Ara. Mungkin terlihat begitu klise dan terlalu umum. Terlalu dini dan basi bicara cinta pada pandangan pertama.

Bagi Radit,apa yang dirasakannya semua adalah benar,bahwa Ara adalah cinta pada pandangan pertamanya. Tapi mungkin bukan cinta pertamanya. Dan kadang,semua orang butuh pembenaran terhadapa apa yang dilakukan dan dirasakannya.

Seperti sore itu,seperti biasa dan masih bersembunyi dari Ara. Radit masih duduk membaca sebuah novel bercover hitam pekat dan tebal,terlihat ada headset ditelinganya,sepertinya dia mendengarkan lagu dan membaca dengan serius. Suasana di toko buku andalan Radit ini selalu menentramkan hati. Radit duduk diatas sofa disamping jendela kaca besar. Dari luar Radit nampak seperti barang dagangan yang menjadi andalan.

Dihadapan Radit,duduk dengan rapih dan uap seperti kebakaran kecil secangkir Americano,nampak juga lima cangkir lainnya. Sepertinya Radit yang sejak pagi duduk telah mengahabiskan 5 cangkir Americano dan satu cangkir lagi yang belum disentuh sama sekali. Jadi totalnya 6 cangkir Americano yang telah ia hirup dari tadi.

"Gak tau kenapa,Radit kelihatannya murung terus dari tadi,mungkin dia stres kali" kata seorang barista kepada Rachel yang baru saja datang.
 Rachel adalah sahabat kecil Radit,mereka tak pernah berpisah dari kecil. Namun diam-diam,Rachel,cewek yang terbilang feminim dan anggun ini didepan orang banyak ini selalu terlihat kelaki-lakian dihadapan Radit dan selalu tidak menarik. Diam-diam juga,Rachel menyimpan rasa pada Radit yang bengel dan brandalan ini sejak kecil,Radit adalah cinta monyet Rachel. Dan Radit tak pernah mengetahui itu.

"Serius??? Udah 2 minggu saya gak ketemu dia soalnya,baru pulang dari luar kota" sambung rachel merespon dengan nada tak beraturan.

"Kalau gitu,mendingan saya samperin dia sekarang" lanjut Rachel antusias.
Rachel lalu berjalan meninggalkan barista itu,kemudian menghampiri Radit. Rachel berjalan pelan,menjinjit dari belakang,berniat mengangetkan Radit.
"Hoooy!!! Ngapain lo ngelamun sendiri gitu???" teriak Rachel mengagetkan Radit,atau Radit cuma pura-pura kaget? entahlah.

"Ngagetin aja lo! Siapa yang ngelamun? gue lagi baca nih! Lo kagak liat apa???" kata Radit sambil melepas headset dan meletakkan buku hitam tebalnya itu.
Kemudian seorang wanita masuk berjalan dengan seorang laki-laki tinggi,rapih,dan tampan. Radit dan Rachel sepertinya mengenal wanita itu. Wanita itu adalah Ara,cinta pada pandangan pertama Radit dan Rachel tau itu.

Radit membereskan semua barangnya dan menyeruput sisa terakhir dari Americano miliknya sambil berkata pada Rachel.
"Gue harus pergi!" Radit berjalan keluar tanpa menoleh.
Radit berjalan pergi,memandang lurus tanpa menoleh. Pergi begitu saja.

Nampaknya dia ingin terus bersembunyi dari Ara. Juga,Radit begitu sakit hati ketika melihat Ara berjalan dengan laki-laki lain. Rachel yang ada disitu cuma terdiam. Dia tahu,sesuatu mungkin telah terjadi. Tapi tak bisa membohongi hatinya juga kalau dia mencintai Radit.
"Andai lo tau Dit,gue kangen dan sayang banget sama lo" ucap Rachel dalam hati.
bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar