Gue lagi dengarin lagu 'A thousands Year'nya Christina Perri nih,lagunya tentang menunggu,menuggu seorang yang dicintai. Entah kenapa,setiap dengerin lagu ini,gue merasa begitu pas dan liriknya ngena banget.
Bicara tentang menunggun,berarti bicara tentang kesanggupan buat menanti. Banyak sekali orang yang menuggu cintanya datang setiap harinya. Bahkan banyak yang menunggu karena begitu yakin bahwa cintanya akan benar-benar kembali,iya,benar-benar kembali padanya.
'Menunggu itu sesuatu yang paling membosankan' itu kata-kata yang sering banget gue denger dari semua orang yang pernah gue aja ngobrol tentang bagaimana rasanya menunggu. Menunggu itu seperti diam dalam air,tak berenang dan jalan kemana-mana. Semua orang yang menunggu dengan begitu,bisa dikatakan orang setia. Dan semua orang yang menuggu dengan setia bisa dikatakan bodoh.
Begitu juga yang gue alamin pada pertengahan 2009,waktu itu gue SMP dan sedang jatuh cinta ama seorang cewek. Mungkin bagi sebagian orang ini cinta monyet,tapi bagi gue bukan. Dia cinta kecil gue. Dan bakalan tumbuh dan besar seiring umur gue bertambah. Dia juga bukan monyet,jadi ngapain dibilang cinta monyet??
Mulai dari minta nomor hpnya,dengan gaya meminta yang begitu banci,cuma berani lewat teman,gue menikmati fase awal-awal mencintai seperti itu. Gue inget,dia temen Kursus bahasa inggris gue. Kita sekelas,tapi gak saling kenal. Dia temen satu sekolah,juga gak saling kenal,gue pertama kali liat dia juga aktu kelas 2 SMP. Mungkin sebelumnya pernah liat,tapi lupa dan belum cinta. Setelah meminta nomor hp,ada rasa yang ngebuat berani untuk sms duluan. Setelah berani sms duluan,tapi respon dia gak baik-baik amat. Terus-terusan sms aja,siapa tau semuanya bisa berubah.
Waktu terus berputar,kalender kembali dibalik dan pulsa tiap dua hari harus diisi. Cinta membuat semuanya begitu cepat dan keadaan mulai berubah. Kita mulai dekat 'Yeah' teriak gue dalam hati. Mulai saling mengingatkan makan,saling perhatian dan saling merendahkan diri sendiri,sebagaimana kebodohan cara mencintai remaja pada umumnya. Tapi ada yang beda,karena kita gak pernah saling bicara secara langsung. Semua kedekatan yang kita alami cuma didunia maya. Ya,dunia maya. Padahal kita satu sekolah dan satu tempat kursus.
Hingga suatu hari,ketika perasaan yang ada didalam hati ini terus membuncah,gue gak tahan lagi dan putusin buat ngungkapin perasaan yang entah berantah ini. Mungkin cerita ini begitu klise,terjadi pada banyak orang,dari dulu hingga sekarang. Tapi semua cerita yang terjadi itu menurut gue beda,karena orang lain gak pernah jadi gue,dan gue gak pernah jadi orang. Gue memutuskan untuk nembak dia. Dan gue ditolak.
Ada sakit hati ketika ditolak,rasanya semua yang dilakukan selama ini begitu sia-sia. Gue juga berpikir,mungkin ada yang salah dari gue,atau dia yang salah. Kita mngoreksi sama-sama,dan kita berteman. Mungkin karena gue rada' begok',dan memang keras kepala. Suatu hari,gue beraniin diri buat nembak dia lagi, dan?? gue lagi-lagi ditolak! Sejak saat itu,gue memtuskan untuk menunggu dia. Gue mungkin ditolak berkali-kali. Tapi itu gak mempan. Dan hingga kapanpun dan aku gue gak tau ujungnya sampai kemana.
Berkomitmen untuk menunggu sesorang kembali itu berarti bersiap menerima sakit hati sepanjang hari,hingga dia pergi jauh. Jauh sekali. Entah sampai kapan orang yang bisa disebut tolol karena menunggu ini bertahan. Bertahan sebagai gila yang berusaha untuk setia,bagi sebagian orang gue mungkin dikatain gila. Tapi bagi gue itu salah! Karena gue bahagia ketika nungguin dia datang. Walaupun itu cuma mimpi buat gue.
Pada akhirnya,orang yang tetap pada pendiriannya untuk menunggu,berarti siap-siap kesepian,karena selalu menutup,bukan menutup,tapi membuka sedikit ruang untuk orang lain akan merasa kesepian. Dan bagi gue ada beda tipis antara definisi kesepian orang lain dan bahagia gue sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar