Kamis, 12 Desember 2013

Hatiku Masih Rumahmu



Hujan mengguyur dari angkasa sejak semalam. Membasahi jalan, emper toko, lampu lalu lintas, selokan, seperti menyederhanakan arti sebuah kedukaan. Angin merapalkan doa, dia alunkan seribu bunyi yang di dalamnya ditumbuhi engkau. Kemudian tentang jam dinding yang terus berlari sendiri berputar berusaha menemukan engkau di setiap sudut, padahal lingkar tak punya sudut.
Duru deras hujan seperti halnya orasi katak-katak duda yang ditinggalkan kekasihnya. Dengan melodi yang tak pernah teratur dia menanyakan arti sebuah kehilangan ketika ditinggalkan. Kemudia tentang kopi yang kehilangan asap, hangat, begitu pula kehampaan ini.
Beberapa hari dipeluk hujan, kukira hanya keadaan biasa saja. Entah kenapa, makin ke sini, makin terasa bahwa selepas hujan, udara semakin dingin, tubuhpun semakin dingin. Kepalaku bahkan semakin asing dengan diri sendiri, dengan engkau yang kukenal jiwanya.
Hujan belum berhenti, aku masih di sini. Kuayunkan sebuah tanparan keras pada sosok di dalam cermin, tepat di hadapanku. Kuacak-acak rambutnya, hingga berantakan seperti jiwanya. Kemudian ia berteriak, entah.Setelah itu, engkau kembali masuk ke dalam kepalaku yang dipenuhi sejuta engkau sendiri. Melihatnya tanpa hati. Yang kuingin, engkau tetap tinggal pada satu ruangan besar pada kepala seorang dalam cermin itu.Engkau tertawa, menertwakan arti sebuah permintaan untuk bertahan, tapi tatapan matamu sendu, ia tak bisa bohong. Matamu air keras yang hitam, ketika kuingin berenang, hatiku larut dan hilang. Ada yang bilang hatimu tak di sini. Lalu engkau pulang, ke rumahmu dengan jalan-jalan terlebih dahulu.
Kali ini, aku yang berusaha jalan-jalan, melewati jalan pikiranmu yang tumbuh bercabang, lalu terjebak dalam persepsiku sendiri yang melihatnya seperti termakan janji sendiri, seperti ditusuk duri-duri. Ku melanjutkan perjalanan. Tepat di bawah sebuah pohon rindang, di jalan yang sama, menuju pikiranmu, aku di hentikan oleh sebuah penemuan tentang sebuah nama yang bukan namaku di situ. Lidahku kembali tercekat, belum sempat sampai, aku kembali.
Hujan masih mengguyur dan aku kembali kehujanan. Hujan belum berhenti di kepalaku, hatiku. Kubukan lagi sebuah buku, yang di dalamnya tertulis kita. Mimpiku yang sederhana. Sambil berselimut kabung yang bergitu 'hangat', aku menggigil membaca rindu yang tertera di dalamnya. Rindu pada kita yang lama, bukan pada kita yang tak hentinya mengawetkan diam, dalam-dalam. Kuambil telpon genggam, aku menggigitnya kemudian melemparkannya pada kaca jendela kepalaku. Lemparan itu tepat mengenai bawah mataku, lebam, selebam hati yang ditampar cemburu karena nama di pohon itu bukan namaku. Kulempar lagi, kembali lagi, Kali ini, dadaku yang lebam.
Kuambil telponku. Kuhubungi engkau, bisaka engkau kembali? Hatiku masih rumahmu, tak peduli pohon-pohon itu menceritakan tentang kita yang bukan atas namaku. Bisakah engkau kembali? Akan kucoba mengerti maumu. Aku takkan kecewakanmu. Hatiku masih rumahmu, meski sedikit lebam. Dan maaf, ruangan di kepalaku terlalu berantakan. Maaf, aku membosankan.








Minggu, 17 November 2013

Hujan Pertengahan November

Hujan pertengahan November
Datang terlalu pagi, masih pukul 5 lewat lima centi

Hujan pertengahan November
Adalah akhir dari dada yang terlanjur tabah

Hujan pertengahan November
Datang dengan santai, dengan sebatang harap yang diisap jadi asap
dengan secangkir asa yang sisa ampas

Hujan pertengahan November
adalah denting-denting genting, pada kepala orang yang sinting

Hujan pertengahan November
adalah wanita penghibur
bagi laki yang gusar sendiri

Hujan pertengahan November
Rintik sandiwara yang terbuka

Hujan pertengahan November
Semakin deras, semakin ke sini, semakin dingin

Hujan pertengahn November
adalah pendamping harap yang datang
Supaya aku tak membuat hujan sendiri pada mata ini
pada matamu jua

Hujan pertengahan November
Menyimpan rahasia dengan baik
Disamarkannya rahasiaku mencintaimu dan airmata yang berurai semu di pipiku

Hujan pertengahan November
Datang terlalu cepat dan aku takut ia tak dapat pulang sendiri
Sama seperti aku yang berhenti dan tersesat di sampingmu

Hujan pertengahan November
Tengah melakukan teatrikal, mengabsurdkan rasa sayang yang tak wajar

Hujan pertengahan November
Selamat Datang pada genting dadaku yang lapang
Pada pengertian 'nyaman' yang tak pernah kupaham

Tak Ada Judul

Kita adalah puisi-puisi yang telah layu
Dimakan harapan kaku yang duduk diam di kursi kayu waktu

Harapan kaku itu berjanggut putih, bajunya compang-camping diterpa rindu dan dugaan yang tak terkira
Dagunya nyilu dihantam ragu

Keyakinanku tentang kita adalah makan siang dari harap yang terlanjur bisu itu
Terlanjur bicara jua, tapi tak didengarkan
Terlanjur menyayangi, lalu diabaikan

Cinta yang terjadi adalah besi
Mematahkan tiap sendi dari aku yang berjuang, sendiri

Aku Yang Tak Pernah Paham

Aku yang tak pernah paham
Adalah kebingungan dengan arah dan jalan pikiranmu

Aku yang tak pernah paham
Menjadikan hatimu teka-tekinyang tak pernah bisa kutebak sendiri

Aku yang tak pernah paham
Merapal sayang dan cinta, menampungnya pada baskom
Kutumpahkan dari atas kepalamu yang lugu

Aku yang tak pernah paham
Sedang kebingungan, tentang siapa yang diam di hatimu yang terdalam

Aku yang tak pernah paham
Gila sendiri
Terhadap teka-teki atas kamu yang semaunya sendiri

Kemudian, Aku yang tak pernah paham ini
Gelisah, karena s=cemburu bergerilya dan membombardir hati dan kepalaku
Aku sendiri

Daan, aku yang tak pernah paham
Hanya bisa menanam tabah
Pada dada yang lapang ini, sendiri

Jumat, 01 Maret 2013

Wanita Berbaju Ungu

Hujan sedari pagi hingga petang terus bermain-main di kotaku. Di pelataran emperan-emperan toko,di belakang sekolah,di taman,dan di kali yang airnya tak pernah bersih. Hujan seperti isyarat,hujan seperti cinta yang menggebu,hujan menuntut untuk rindu,dan hujan sekarang identik dengan kamu,si baju ungu dalam hujan itu.

Kemarin,sewatu hujan menguasai waktu, aku berlarian kecil dengan teman-temanku merayakan hujan seperti hajat besar. Mengelilingi sekolah,emperan toko,taman,dan kali yang tak pernah bersih. Sekilas pandanganku mengudara keseluruh arah,di sana,di trotoar jalan menuju bandara,seorang wanita berbaju ungu sedang bermain hujan. Tubuhnya basah dan dia tertawa,seolah bahagia. Pandanganku berhenti tepat didepannya,sambil menguyah permen karet berwarna merah muda,aku mulai bertanya-tanya,siapa dia?
Seketika hujan semakin deras dan mulai memepermainkan perasaanku,kemudian dia datang dan menetap di kepalaku.

***

Dua hari berselang,hujan masih menguasai kotaku. Hanya beberapa kali saja hujan absen,itupun di kala aku lelap dan terbangun kemudian bertemu hujan lagi. Dua hari setelah hari dimana aku melihat ia,wanita berbaju ungu dalam hujan yang menggebu. Setiap hari,hujan seakan menabuhkan gendang rindu pada dadaku untuk wanita berbaju ungu itu. Aku masih ingat matanya yang begitu bulat dan aku masih ingat parasnya yang terlihat lugu,hari itu dia terlihat bahagia.

 Aku sekarang tengah terbengong-bengong di dalam ruangan berdinding kaca dengan interior bernuansa hijau. Ku seruput segelas cappucino yang masih hangat dengan kepulan asap di atasnya, Sementara hujan masih membelenggu di luar sana,terus menabuh gendang rindu,bertalu-talu. Entah kenapa sejak dua hari yang lalu,wanita berbaju ungu itu masih tinggal di dalam kepalaku,terbayang senyumnya masih mendebarkan dada,dan bibirku selalu tertarik dan melengkung sendiri ketika mengingatnya.
 "Dra! kenapa senyum? Ingat cewek yang kemaren? Cieee,yang jatuh cinta!" kata Laguna sambil tawanya ditahan.
Aku tersentak dan ingin mengelak,tapi mimik wajahku tak bisa bohong. Aku semakin tersenyum,seperti mempertegas dalam hati,bahwa aku jatuh cinta pada wanita itu,wanita berbaju ungu dalam hujan yang menggebu. Hanya saja satu hal yang masih mengganjal,aku belum tau namanya. Bahkan setelah sikapku tak karuan dibuatnya.

Sabtu, 16 Februari 2013

Waktu Kamu Pergi

Waktu kamu pergi,langit mendadak hitam. Dan yang paling ngebuat aku sakit adalah ketika sadar kalau kamu sulit untuk kembali

Pernyataan di atas memang nyata dan benar-benar aku rasa,betapa sakitnya waktu kamu pergi,entah beberapa tahun lalu. Keterlaluan untuk aku yang gak sama sekali yang bisa lupain kamu,tapi aku mau bilang apa lagi? Aku gak bisa ngelak sama perasaan yang udah ngacak-ngacak hati aku seperti ini.

Ada yang bisa ngelak dari perasaannya sendiri? Gak ada,kan?

Aku sama sekali gak bisa ngelak ataupun lari dari permasalahan tentang hati ini,tentang memberi keseleruhan jiwa buat kamu. Ini emang gak bisa diterima akal sehat orang banyak,tapi kenyataannya? Bahkan sampai sekarang aku gak bisa lepas dari kamu,orang yang paling aku 'cinta',dulu sampai saat ini. Melankolis? Adanya 'sedang' begini.

Waktu kamu pergi,aku seperti kehilangan sebelah kaki untuk berdiri,kehilangan pandangan untuk melihat arah,dan yang paling parah aku seperti kehilangan sebagian hati. Sejak saat itu,aku gak pernah lagi seperti biasanya. Senyumku gak lagi melengkung seperti dulu,tatapanku gak lagi tenang kayak dulu. Kayak ada yang janggal dan menahan aku untuk seperti dulu. Aku gak pernah lagi bilang cinta untuk yang lainnya,bahkan untuk orang-orang setelah kamu. Karena apa,karena aku belum cinta lagi sama orang seperti sama kamu.

Waktu kamu pergi,langit sore selalu terasa lebih gelap dan kelam. Malam seperti gak pernah berbintang.
Waktu kamu pergi,aku cuma sendiri. Dan setiap harinya berharap kamu bakalan kembali.

Waktu kamu pergi,aku cuma bisa mengais kenangan dari potongan-potongan cerita yang kamu buang,lalu ku simpan dalam-dalam,dalam hatiku.



Jumat, 15 Februari 2013

Apa kabar dengan kita?

Tadi malam,pas aku gak bisa tidur,aku begadang lagi. baring di atas kasur sambil nunggu ngantuk datang,eh taunya yang datang malam tentang kamu lagi,tentang kita. Aku mau bilang,apa kabar sama kita??

Kita,masihkah bisa disebut 'kita'? Aku rasa udah gak bisa,tapi semoga aja perkataan aku ini salah. Aku galau lagi mikirin kamu,bagian dari lembaran-lembaran di hati aku yang terlanjur aku abadikan dan aku simpan dalam-dalam. Entah kenapa,semuanya kembali terkuak tadi malam,semuanya kembali terapung dalam angan-angan. Kelihatannya memang bodoh dan aku terlalu berlebihan sampai segininya sama perasaan yang aku buat sendiri untuk kamu,tapi aku gak mau munafik dengan bohong sama orang banyak lewat tulisan-tulisan yang ada di twitter,blog,atau apalah. Aku sendiri gak bisa bohong sama diri aku sendiri untuk bilang nggak sama perasaan ini,alasannya cuma satu,karena aku sayang kamu.

Kita? Aku masih aja mikir sampai sekarang bagaimana kita dulu dan gimana dengan keadaan kita sekarang. Betul-betul beda,'kita' cuma jadi dua orang yang satu sekolah,pernah kenal,dan pernah punya perasaan,tapi seperti sebaliknya. Terlalu aneh sebenarnya buat orang kayak aku yang selalu terbiasa tanpa kamu,dulu.  Jadi orang yang terbiasa dengan hal-hal konyol yang kita lalui bersama dulu,lalu tiba-tiba ditinggal pergi dan sendiri adalah sesuatu yang menyimpang dari kodratku.

Aku sadar,aku terlalu lama diam ditempat dan gak melangkah 1 langkahpun dari kamu,aku kayak dikutuk untuk jatuh cinta sama kamu setiap aku liat kamu. Okelah,ini lebay tapi ada gak yang bisa kasi alasan untuk aku supaya aku bisa pergi dari dia? Dari konsep tentang 'kita' yang aku buat sendiri dalam angan sendiri?

Aku jatuh cinta sama dia berkali-kali tanpa alasan dan aku gak punya alasan buat pergi walaupun dia tolak aku berkali-kali.

Sekali lagi,apa kabar dengan 'kita'?
Masihkah kamu menjadi kamu yang dulu?