Kita adalah puisi-puisi yang telah layu
Dimakan harapan kaku yang duduk diam di kursi kayu waktu
Harapan kaku itu berjanggut putih, bajunya compang-camping diterpa rindu dan dugaan yang tak terkira
Dagunya nyilu dihantam ragu
Keyakinanku tentang kita adalah makan siang dari harap yang terlanjur bisu itu
Terlanjur bicara jua, tapi tak didengarkan
Terlanjur menyayangi, lalu diabaikan
Cinta yang terjadi adalah besi
Mematahkan tiap sendi dari aku yang berjuang, sendiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar