Hujan mengguyur dari angkasa sejak semalam. Membasahi jalan,
emper toko, lampu lalu lintas, selokan, seperti menyederhanakan arti sebuah
kedukaan. Angin merapalkan doa, dia alunkan seribu bunyi yang di dalamnya
ditumbuhi engkau. Kemudian tentang jam dinding yang terus berlari sendiri
berputar berusaha menemukan engkau di setiap sudut, padahal lingkar tak punya
sudut.
Duru deras hujan seperti halnya orasi katak-katak duda yang
ditinggalkan kekasihnya. Dengan melodi yang tak pernah teratur dia menanyakan
arti sebuah kehilangan ketika ditinggalkan. Kemudia tentang kopi yang kehilangan
asap, hangat, begitu pula kehampaan ini.
Beberapa hari dipeluk hujan, kukira hanya keadaan biasa
saja. Entah kenapa, makin ke sini, makin terasa bahwa selepas hujan, udara
semakin dingin, tubuhpun semakin dingin. Kepalaku bahkan semakin asing dengan diri sendiri, dengan engkau yang kukenal jiwanya.
Hujan belum berhenti, aku masih di sini. Kuayunkan sebuah tanparan keras pada sosok di dalam cermin, tepat di hadapanku. Kuacak-acak rambutnya, hingga berantakan seperti jiwanya. Kemudian ia berteriak, entah.Setelah itu, engkau kembali masuk ke dalam kepalaku yang dipenuhi sejuta engkau sendiri. Melihatnya tanpa hati. Yang kuingin, engkau tetap tinggal pada satu ruangan besar pada kepala seorang dalam cermin itu.Engkau tertawa, menertwakan arti sebuah permintaan untuk bertahan, tapi tatapan matamu sendu, ia tak bisa bohong. Matamu air keras yang hitam, ketika kuingin berenang, hatiku larut dan hilang. Ada yang bilang hatimu tak di sini. Lalu engkau pulang, ke rumahmu dengan jalan-jalan terlebih dahulu.
Kali ini, aku yang berusaha jalan-jalan, melewati jalan pikiranmu yang tumbuh bercabang, lalu terjebak dalam persepsiku sendiri yang melihatnya seperti termakan janji sendiri, seperti ditusuk duri-duri. Ku melanjutkan perjalanan. Tepat di bawah sebuah pohon rindang, di jalan yang sama, menuju pikiranmu, aku di hentikan oleh sebuah penemuan tentang sebuah nama yang bukan namaku di situ. Lidahku kembali tercekat, belum sempat sampai, aku kembali.
Hujan masih mengguyur dan aku kembali kehujanan. Hujan belum berhenti di kepalaku, hatiku. Kubukan lagi sebuah buku, yang di dalamnya tertulis kita. Mimpiku yang sederhana. Sambil berselimut kabung yang bergitu 'hangat', aku menggigil membaca rindu yang tertera di dalamnya. Rindu pada kita yang lama, bukan pada kita yang tak hentinya mengawetkan diam, dalam-dalam. Kuambil telpon genggam, aku menggigitnya kemudian melemparkannya pada kaca jendela kepalaku. Lemparan itu tepat mengenai bawah mataku, lebam, selebam hati yang ditampar cemburu karena nama di pohon itu bukan namaku. Kulempar lagi, kembali lagi, Kali ini, dadaku yang lebam.
Kuambil telponku. Kuhubungi engkau, bisaka engkau kembali? Hatiku masih rumahmu, tak peduli pohon-pohon itu menceritakan tentang kita yang bukan atas namaku. Bisakah engkau kembali? Akan kucoba mengerti maumu. Aku takkan kecewakanmu. Hatiku masih rumahmu, meski sedikit lebam. Dan maaf, ruangan di kepalaku terlalu berantakan. Maaf, aku membosankan.
Hujan masih mengguyur dan aku kembali kehujanan. Hujan belum berhenti di kepalaku, hatiku. Kubukan lagi sebuah buku, yang di dalamnya tertulis kita. Mimpiku yang sederhana. Sambil berselimut kabung yang bergitu 'hangat', aku menggigil membaca rindu yang tertera di dalamnya. Rindu pada kita yang lama, bukan pada kita yang tak hentinya mengawetkan diam, dalam-dalam. Kuambil telpon genggam, aku menggigitnya kemudian melemparkannya pada kaca jendela kepalaku. Lemparan itu tepat mengenai bawah mataku, lebam, selebam hati yang ditampar cemburu karena nama di pohon itu bukan namaku. Kulempar lagi, kembali lagi, Kali ini, dadaku yang lebam.
Kuambil telponku. Kuhubungi engkau, bisaka engkau kembali? Hatiku masih rumahmu, tak peduli pohon-pohon itu menceritakan tentang kita yang bukan atas namaku. Bisakah engkau kembali? Akan kucoba mengerti maumu. Aku takkan kecewakanmu. Hatiku masih rumahmu, meski sedikit lebam. Dan maaf, ruangan di kepalaku terlalu berantakan. Maaf, aku membosankan.
Meski sedikit lebam. :'(
BalasHapus