Minggu, 17 November 2013

Hujan Pertengahan November

Hujan pertengahan November
Datang terlalu pagi, masih pukul 5 lewat lima centi

Hujan pertengahan November
Adalah akhir dari dada yang terlanjur tabah

Hujan pertengahan November
Datang dengan santai, dengan sebatang harap yang diisap jadi asap
dengan secangkir asa yang sisa ampas

Hujan pertengahan November
adalah denting-denting genting, pada kepala orang yang sinting

Hujan pertengahan November
adalah wanita penghibur
bagi laki yang gusar sendiri

Hujan pertengahan November
Rintik sandiwara yang terbuka

Hujan pertengahan November
Semakin deras, semakin ke sini, semakin dingin

Hujan pertengahn November
adalah pendamping harap yang datang
Supaya aku tak membuat hujan sendiri pada mata ini
pada matamu jua

Hujan pertengahan November
Menyimpan rahasia dengan baik
Disamarkannya rahasiaku mencintaimu dan airmata yang berurai semu di pipiku

Hujan pertengahan November
Datang terlalu cepat dan aku takut ia tak dapat pulang sendiri
Sama seperti aku yang berhenti dan tersesat di sampingmu

Hujan pertengahan November
Tengah melakukan teatrikal, mengabsurdkan rasa sayang yang tak wajar

Hujan pertengahan November
Selamat Datang pada genting dadaku yang lapang
Pada pengertian 'nyaman' yang tak pernah kupaham

Tak Ada Judul

Kita adalah puisi-puisi yang telah layu
Dimakan harapan kaku yang duduk diam di kursi kayu waktu

Harapan kaku itu berjanggut putih, bajunya compang-camping diterpa rindu dan dugaan yang tak terkira
Dagunya nyilu dihantam ragu

Keyakinanku tentang kita adalah makan siang dari harap yang terlanjur bisu itu
Terlanjur bicara jua, tapi tak didengarkan
Terlanjur menyayangi, lalu diabaikan

Cinta yang terjadi adalah besi
Mematahkan tiap sendi dari aku yang berjuang, sendiri

Aku Yang Tak Pernah Paham

Aku yang tak pernah paham
Adalah kebingungan dengan arah dan jalan pikiranmu

Aku yang tak pernah paham
Menjadikan hatimu teka-tekinyang tak pernah bisa kutebak sendiri

Aku yang tak pernah paham
Merapal sayang dan cinta, menampungnya pada baskom
Kutumpahkan dari atas kepalamu yang lugu

Aku yang tak pernah paham
Sedang kebingungan, tentang siapa yang diam di hatimu yang terdalam

Aku yang tak pernah paham
Gila sendiri
Terhadap teka-teki atas kamu yang semaunya sendiri

Kemudian, Aku yang tak pernah paham ini
Gelisah, karena s=cemburu bergerilya dan membombardir hati dan kepalaku
Aku sendiri

Daan, aku yang tak pernah paham
Hanya bisa menanam tabah
Pada dada yang lapang ini, sendiri