Kamis, 26 April 2012

CINTA KAYAKNYA!



Bertahun-tahun memendam rasa cinta itu kayak ngebiarin duri tumbuh dan berkembang biak sampai anak cucu dalam hati. Setidaknya itu yang gue rasain 4 tahun belakangan ini. Gue ngerasa hidup gue ini penuh dengan kebencongan soalnya sampai saat ini pun ketikague ama dia udah berpisah gue gak pernah berani nyatain cinta ama gadis pujaan gue,Irha. Irha Sasti itu namanya. Sekarang gue gak tau dia ada dimana. Entahlah. Yang jelas gue selalu berharap ketemu lagi sama dia.

Suara handphoneku berdering,segera kuangkat dan kubaca ada pesan yang masuk.

“Reuni SMA Nusantara angkatan 2006/2007 lusa Io. Lo datang yah!” kata Roman lewat smsnya.

“Hah?? Serius lo??” balas gue lagi. Setengah percaya.

“Ia gue serius Io,kita reuniannya lusa.

Setengah tak percaya,ku coba berfikir kembali. Ini adalah moment yang tepat untuk bertemu dengan Irha dan mengungkapkan semuanya.

"Acaranya jam berapa??" kulanjutkan bertanya dengan nada gembira.

"Jam 7 malem Io,jangan sampe telat yo!" jawabnya.

tak kujawab pesan dari Roman. Aku mulai gila berlari kecil dipinggiran tempat tidurku.

Irha,I'm coming!!!

Pukul 18.45 aku bergegas mempersiapkan diri sebaik mungkin,aku tak mau telat. Segera kupacu motor besarku kesana. Sekolahku dulu.

Kutatap dalam-dalam pemuda berambut lurus dan hidung yang mancung. Wajah itu familiar dihadapanku. Yeah! itu Radit teman sebangku gue sejak kelas 1 SMA. Ku pergi menemuinya dan melepas kangen yang terlalu pada sahabat-sahabatku yang lainnya. Namun mataku juga tak berhenti mencari,dimanakah wanita pujaanku ini??? Pas! Dibangku taman seorang wanita anggun duduk sendiri termenung. Tak salah lagi itu Irha!

Aku berlarian kecil pergi mememuinya. Ternyata dia masih seperti dulu begitu cantik dan anggun dan akupun begitu masih seperti anak kecil yang malu-malu. Ku kumpulkan keberanian yang cukup untuk memulai pembicaraan dengannya. Dengan mulai menyakan kabarnya dan mulai basa-basi dengan kenangan gila waktu sekolah dulu. Kami mulai akrab dan mulai membahas bagaiman tentang kuliah masing-masing. Di akhir perbincangan ku sempatkan diri untuk mengajaknya keluar untuk makan malam besok.

"Ntar malam kamu ada acara gak??" kataku gugup.

"Gak ada,emangnya kenapa??" jawabnya.

"Mau gak jalan sama aku gitu atau kita makan malam gitu??" masih dengan gugup.

"Emmm,...."

"Ya deh, gak pa-pa kalau gak mau" kataku putus asa.

"Eh,mau kok" dengan senyum dan nada meyakinkannya.


So,today is the best day in my life. Aku benar-benar bahagia. Dan aku ingin teriak sejadi-jadinya.


Dua bintang dan sepotong bulan terang,satu atap dalam sebuah cafe ini, dua orang remaja yang saling berinteraksi lewat imajinasi dan perasaan masing-masing. Aku tak ingin semua ini berlalu begitu saja, tanpa sebuah kata yang terekam dalam otak ini, melalui bibir manisnya. Kami seperti patung,kami seperti dua ekor merpati yang saling tak peduli satu sama lainnya. Terus seperti ini.Pertemuan yang begitu hampa tapi membahagiakan. Dia tetap tersenyum dari saat pertama .

     "Hei,kenapa bengong terus sih daritadi?" tanyanya dengan nada yang membuat irama jantung amburadul.

     "Aaaku nggak aaaapaa-aaapa kok" aku tergepoh-gepoh untuk menyusun sebuah jawaban, aku tak mengerti. Aku menjadi gagap seketika.

     "Kok jadi gagu gitu sih? malu yah? gak pa pa koq,biasa aja lagi".

     Seperti biasa kata-katanya selalu membuatku berkeringat, aku tak menyangka dia seperti ini. Aku tak memjawab, mengheningkan suasana. Aku beku!

    "Kenapa sih? aku ngambek nih kalau dikacangin terus!" Sambungnya.

    "Gak kok, gak kenapa-kenapa. Kamu cantik malam ini" dengan segala keanehan kukatakan itu.

    Kata-katanya manja, aku terkesima dan aku menyukai segalanya.

   Malam ini berlalu hanya lewat pandang,sepertinya tragis tapi romantis. Ada bahagia-bahagia kecil yang berlari disamping bibirku. Yang menutup mulutku untuk bicara lebih banyak lagi. Malam itu menjadi malam yang panjang,hujan tak kunjung berhenti. Dia ingin pulang,keluarganya sudah menanti dirumah. Aku mengantarkannya pulang. Kami berdua menerobos hujan,melawati rongga-rongga angin, menembus malam. Ku lepaskan jaket yang kukenakan dan pakaikan padanya,dia tampak mengigil kedingin diterkam oleh sapuan hujan, aku mengantarnya hingga halaman rumahnya.

   "Makasih ya Rio!" ungkapnya sambil tersenyum.

   "Iya sama-sama Rha" juga sambil tersenyum.

   Aku dan Dia kembali, kami kembali dalam bisu seperti tadi. Kemudian beku,aku tenggelam dalam tatapan beku itu. Terdengar teriakan kakaknya, dia kemudian menutup pintu pelan-pelan, kami menikmati saat-saat yang akan berakhir ini, seperti pertama kali kita berjumpa ternyata perpisahn juga sama. Selalu membuat dan meninggalkan jejak kenangan.

  Malam tak kunjung berakhir dan aku memang ingin, malam ini takkan pernah berakhir.


  Sebulan kemudian


  Sebulan setelah pertemuan singkat dan menggetarkan itu aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Kami menjalin komunikasi hanya lewat sms,telpon,ataupun hanya sekedar chattingan di dunia maya,bahkan disekolah pun aku jarang melihatnya. Namun telah beberapa hari ini aku kehilangan kontak dengannya,entah mengapa setiap kuhubungi ia tak pernah merespon. Aku kesal namun aku bukanlah siapa-siapa. Aku tak berhak untuk marah.


  Waktu menunjukkan pukul 23.15. Malam ini firasatku sungguh tidak enak,seperti akan terjadi sesuatu yang buruk menimpa orang-orang terdekatku.



  "Kriiiiiinnnnggg!!! Kriiiiiiinnnggg!!!


  Suara keras dari ponsel membuyarkan lamunanku. Segera kuhampiri menerima panggilan diponselku,disana tertera nomor yang tidak dikenal menelponku.

  "Halooo?" kataku pelan.

  "Hiks.. Hiks.. Hikss" suara wanita diujung telpon.

  Dari ujung telpon sana aku hanya mendengar suara seorang wanita menangis.

  "Halo? Ini siapa???" sahutku kembali.

  "Halo kak! Ini Arin. Kakak bisa datang ke UGD RS Melati sekarang kak?? Kak Irha kecelakaan!" dengan nada panik.


  Segera  kumenuju rumah sakit tanpa pedulikan apapun. Kupacu motorku sekencang-kencangnya. Dengan perasaan yang tak karuan.

  Tiba dirumah sakit,aku berlari menuju UGD. Setibanya didepan UGD kudapati Arin beserta anggota keluarga yang lain tengah terisak.  Perasaanku mulai tak enak lagi sangat tak enak. Aku berjalan sempoyongan dan air mataku juga mengalir dengan sendirinya. Aku menghampiri Arin.

  "Kak Irha udah gak ada kak.. Hiks Hiks" kata Arin tersedu sedan.

  "Dia meninggal karena kecelakan motor waktu pulang dari nonton konser ama pacarnya. Maaf sebelumnya kak,aku baru sekarang bisa ngasih tau kakak kalau kak Irha sebenarnya punya pacar. Dia juga gak pernah sayang sama kakak. Tapi dia gak mau ninggalin kakak karena dia takut kakak sakit hati. Maaf kak!!" timpalnya lagi.


 Aku membisu entah tak tau apa yang bisa kuucapkan dalam kehancuran ini. Daun berguguran seperti membuat resah namun dalam keadaan yang basah,aku mencintainya namun otak dan hati membagi perasaanku. Aku berduka dan aku juga kecewa. kenapa ia tak jujur saja padaku dari dulu. mengapa harus orang lain yang memberi tahuku? mengapa tidak kamu? Dan mengapa kamu pergi begitu cepatnya?? Aku menagis sejadi-jadinya dilorong ini. Dirumah sakit ini. Langit seperti runtuh lalu menimpaku. Kulihat jasadnya untuk terakhir kalinya. Kemudian aku menangis kembali disitu. Kupeluk jasadnya kuberusaha maafkan segala perlakuanya. Kemudian kubisikkan bahwa aku mencintainya. Untuk segala persaan yang kupendam selama ini. Bertahun-tahun.
Malam ini cintaku telah pergi,bersama kebohongan yang sungguh menyakiti. Malam ini juga sepertinya jiwaku telah mati. Diiringi aungan anjing yang merintih. CINTA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar