Kemarin,sewatu hujan menguasai waktu, aku berlarian kecil dengan teman-temanku merayakan hujan seperti hajat besar. Mengelilingi sekolah,emperan toko,taman,dan kali yang tak pernah bersih. Sekilas pandanganku mengudara keseluruh arah,di sana,di trotoar jalan menuju bandara,seorang wanita berbaju ungu sedang bermain hujan. Tubuhnya basah dan dia tertawa,seolah bahagia. Pandanganku berhenti tepat didepannya,sambil menguyah permen karet berwarna merah muda,aku mulai bertanya-tanya,siapa dia?
Seketika hujan semakin deras dan mulai memepermainkan perasaanku,kemudian dia datang dan menetap di kepalaku.
***
Dua hari berselang,hujan masih menguasai kotaku. Hanya beberapa kali saja hujan absen,itupun di kala aku lelap dan terbangun kemudian bertemu hujan lagi. Dua hari setelah hari dimana aku melihat ia,wanita berbaju ungu dalam hujan yang menggebu. Setiap hari,hujan seakan menabuhkan gendang rindu pada dadaku untuk wanita berbaju ungu itu. Aku masih ingat matanya yang begitu bulat dan aku masih ingat parasnya yang terlihat lugu,hari itu dia terlihat bahagia.
Aku sekarang tengah terbengong-bengong di dalam ruangan berdinding kaca dengan interior bernuansa hijau. Ku seruput segelas cappucino yang masih hangat dengan kepulan asap di atasnya, Sementara hujan masih membelenggu di luar sana,terus menabuh gendang rindu,bertalu-talu. Entah kenapa sejak dua hari yang lalu,wanita berbaju ungu itu masih tinggal di dalam kepalaku,terbayang senyumnya masih mendebarkan dada,dan bibirku selalu tertarik dan melengkung sendiri ketika mengingatnya.
"Dra! kenapa senyum? Ingat cewek yang kemaren? Cieee,yang jatuh cinta!" kata Laguna sambil tawanya ditahan.
Aku tersentak dan ingin mengelak,tapi mimik wajahku tak bisa bohong. Aku semakin tersenyum,seperti mempertegas dalam hati,bahwa aku jatuh cinta pada wanita itu,wanita berbaju ungu dalam hujan yang menggebu. Hanya saja satu hal yang masih mengganjal,aku belum tau namanya. Bahkan setelah sikapku tak karuan dibuatnya.